berhujan2 ria di malam anugerah kebudayaan 2007

Nopember 7, 2007 at 8:48 am (Tidak terkategori)

hujan oh hujan… gara2 hujan nih, banyak acara yang terganggu, termasuk acara malam anugerah kebudayaan 2007 yang diselenggarakan pada hari Selasa 6 November 2007 dengan mengambil lokasi di Prambanan. pada acara ini, MenteriKebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik akan memberikan penghargaan kepada 29 individu dan kelompok masyarakat di bidang Kebudayaan. Acara ini didukung oleh beberapa artis yaitu Iga Mawarni, Nobo, dan Maya Rumantir yang akan menghibur para hadirin ketika acara makan malam. Rencananya Iga akan menyanyi “Juwita malam”, “kasmaran”, dan 1 lagu duet dengan Nobo yaitu “Jangan ada Dusta di antara kita”. kemudian Nobo akan menyanyikan lagunya Samson yang terus terang aja aku lupa judulnya. sedangkan Maya Rumantir akan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri judulnya “Dimana Cintamu” yang jujur aja (lagi… soale aku memang jujur) aku belum pernah denger samasekali. entah aku yang terlalu modern atau lagunya emang jadul aku g tau. selain itu Maya juga rencananyan akan menyanyikan “Indonesia Jaya”. Lagu2 yang dibawakan tersebut di aransemen oleh Pak Singgih Sanjaya. berhubung acaranya berbau kebudayaan gitu, maka ditampilkan pula lagu2 daerah yang di aransemen oleh Pak Singgih juga. nah disini ini tugasnya Choir buat nyanyi. lagu kebangsaannya Pak Singgih jelas dibawakan yaitu “Nyanyian Negeriku” yang merupakan medley lagu2 dari beberapa daerah di Indonesia. trus satu lagi lagu dari daerah Kalimantan adat Dayak Karungut judulnya “Bawi Kuwu” yang kalo didengerin jadi kaya lagu Korea, baik gaya menyanyinya maupun bahasanya. Kebetulan nih aku ikutan jadi pendukung acara juga yaitu jadi choirnya.  heran juga sih… dah tau musim hujan kok ya panitianya ngambil lokasi di Prambanan yang outdoor gitu. kebetulan nih habis baca beritanya di suara merdeka.com, seperti yang dikutip dalam berita tersebut, Pak Jero Wacik menyatakan alasan pemilihan lokasi tersebut adalah bahwa Prambanan merupakan tempat yang bernilai sangat tinggi. jadi untuk membuktikan bahwa anugerah tersebut bernilai tinggi juga maka dipilih lokasi yang juga bernilai tinggi. “Ini membuktikan anugerah ini bernilai tinggi karena diberikan di tempat yang sangat bernilai tinggi”, begitu kata Beliau. oke deh Pak, Prambanan memang bernilai tinggi, tapi mbok ya lihat2 situasi dan kondisi dunk… musim hujan ini, mending nyari yang indoor kan daripada kehujanan. pada awal acara sih semua terkendali, hujan juga belum tercurah, gerimispun ga. acara dimulai dengan opening oleh orchestra yang dikondukteri oleh Pak Pipin dari ISI. dilanjutkan beberapa lagu instrumen kemudian lagu Bawi Kuwu. acara selanjutnya adalah penganugerahan kepada beberapa budayawan tapi belum semua. acara tersebut disela dulu oleh ”Nyanyian Negeriku”. nah pada saat nyanyian ini berlangsung, tiba2 tes..tes.. air hujan mulai turun. para penonton dan tamu undangan mulai membuka payung. enak mereka bisa berlindung, lha kami yang lagi nyanyi dan main alat musik ini yang g enak banget. g bisa buka payung atau lari nyari tempat teduh. profesional dunk…hehehe… setelah lagu habis nih berhubung pada g mau kehujanan, buru2 deh para pendukung acara, diawali oleh Pak Pipin yang buru2 menyelamatkan lembaran2 partitur bergegas ke backstage. g mau ketinggalan, teman2 dari orchestra juga berlarian menyelamatkan diri sambil melindungi alat musiknya masing2 yang tentu saja mahal harganya. kalo sampe basah kan gawat. boro2 dapet untung dari honor yang lumayan, yang ada malah rugi kalo alatnya sampe rusak. yang kasihan nih Mas-nya timfani. gimana mo bawa2 timfaninya coba, udah gede, berat, g cuma satu pula… akhirnya cuma bisa ditutupi pake wadahnya aja… lumayanlah cukup bisa melindungi… yang terakhir nih kami choirnya baru ikut2an kabur dari panggung karena hujannya tambah deres. but show must go on. beberapa penghargaan belum diserahkan. alhasil Bapak Menteripun harus rela2 berpayung ria sembari menyerahkan Anugerah Kebudayaan berupa plakat emas 24 karat kepada budayawan lain yang berhak menerimanya. jadinya para budayawan penerima penghargaan inipun harus rela juga berhujan2 ria… ealah… sementara penyerahan anugerah terus berlanjut dibawah derai hujan, kami semua para pendukung acara nunggu di backstage, siap2 dipanggil lagi kalo hujannya sudah reda. detik2 berlalu.. tunggu punya tunggu.. hujannya ga reda2 juga, akhirnya diambil keputusan bahwa acara dihentikan setelah penganugerahan selesai. ga ada acara hiburan malam. jelas aja kami semua jadi bahagia… g usah susah2 nyanyi lagi, g usah main orkes lagi, yang ada sibuk berbenah dan siap2 untuk pulang, tapi gaji tetap utuh (ihik ihik asyik…hehehe curang…). tapi kalo dipikir2 masih mending kami lagi daripada artisnya. beneran makan gaji buta. lha samasekali belum nyanyi, tapi tetep dibayar… iya kan?kami masih sempet ngisi acara di awal… mending banget kan? hihihi

yah jadi bisa buat pembelajaran kalo mo ngadain event apa gitu, lihat2 dulu situasi, kondisi, dan cuaca saat itu.. kalo musim hujan emang sih bisa pake jasa pawang hujan, tapi kan ga jamin juga. buktinya tadi malem hujan tetap turun. aku yakin panitianya pasti dah pake jasa pawang hujan, lha mereka tetap nekat pake indoor, buat jaga2 aja gitu. tapi entah pawangnya yang kurang joss, atau bayarannya kurang, sehingga durasi cuaca cerah tanpa hujannya dikurangi, jadinya tetep hujan deh hehehe… entahlah…

Tulis sebuah Komentar