resah..
baru kemarin aku melihat film “Perempuan Punya Cerita” karya 4 sutradara perempuan. telat banget sih sebenarnya. karena film ini dah rilis dari tahun kemarin. tapi gapapalah aku bicarain sekarang, karena cerita-cerita seperti ini selalu ada dari waktu ke waktu. 4 cerita tentang perempuan yang bener-bener bikin aku merinding, mikir, dan resah.
yang membuat ku resah ketika mendengar kalimat semacam ini ” laki aye tiap hari minta terus, kalau nti bunting lagi gimane?” aku jadi berpikir, tentunya banyak perempuan yang setiap harinya bergumul dengan masalah seperti ini. kalau ga nurut apa mau suami, ada kemungkinan suami mencari di luar, atau kemungkinan bahkan ditinggalkan. hal semacam ini yang menjadikan perempuan tidak punya pilihan selain nurut dengan suaminya. padahal pada akhirnya yang harus menanggung susahnya jelas pihak perempuan. yang hamil jelas perempuan. yang nglairin jelas perempuan. kalau sudah punya anak banyak, kemudian hamil lagi kan jelas berisiko buat kesehatan perempuan. duh.. jadi miris juga, resah mikirin gimana ya caranya perempuan-perempuan seperti ini mempunyai daya tawar sama suaminya, tapi suaminya ga bisa neko-neko juga. ugh. ruwet.
cerita kedua film ini yang mungkin jadi penyebab 21 jogja cuma muterin film ini selama 4 hari aja. jelas bikin gerah orang jogja sih. menyajikan fenomena pergaulan seks bebas dikalangan remaja jogja. walaupun realitanya mungkin memang seperti itu, tapi ga tau juga sih.. (duh jadi pengen riset masalah ini nih hehehe…) yang jelas bahkan di sebuah daerah yang bisa dikatakan jauh dari pusat kota jogja, setiap tahunnya di beberapa SMU/SMK di daerah tersebut selalu ditemukan kasus remaja perempuanĀ yang hamil di luar nikah, bahkan ada kecenderungan meningkat! (kalau ini sih udah berdasarkan riset lho..)
yang bikin gemes dari apa yang coba ditampilkan cerita ini adalah justru kebenaran bahwa memang yang sering jadi korban adalah pihak perempuan, tapi seringkali hal itu disebabkan oleh perempuan itu sendiri. uugh. gemes. mo kasihan gimana, dia sendiri yang salah juga. jadi resah. materi reproductive health memang harus bener-bener bisa masuk kurikulum pendidikan nih. bahkan sejak SMP/SD sekalian. ini baru cara yang bener buat melindungi generasi mendatang dari kemerosotan moral. bukan pake RUU pornografi kaya yang dibilang bu Meutia Hatta. (padahal dia kan perempuan ya?) ugh.
cerita ke tiga sama aja bikin miris. perdagangan perempuan. perdagangan perempuan dilatarbelakangi oleh kemiskinan. selain itu bisa juga tingkat pendidikan. argh. bener-bener rantai masalah yang ga ada putus-putusnya nih. bikin senewen.
cerita keempat ga kalah bikin miris. cerita tentang perempuan yang terinfeksi HIV bukan melalui cara-cara seperti yang selama ini dianggap sebagai penyebab utama terinfeksi virus ini oleh masyarakat yaitu seks bebas dan narkoba. banyak kasus ditemukan perempuan terinfeksi hiv dari suaminya, kayak yang dialami Laksmi dalam cerita ke 4. artinya HIV bukan lagi jadi penyakit yang hanya menginfeksi orang-orang yang dikategorikan berperilaku tidak baik/menyimpang dalam masyarakat. tapi bisa menginfeksi siapa aja. mo orang itu baik-baik atau ga.
memang aspek gender dan HAM seringkali diabaikan orang dalam kasus-kasus semacam ini. tambah bikin resah aja. karena tentunya di kehidupan nyata, kasus-kasus semacam ini tidak hanya dialami 1-2 perempuan, di 1-2 tempat saja. tetapi jutaan perempuan, di belahan bumi mana saja. dengan masalah yang jauh lebih variatif dan kompleks. ugh.
bener-bener bikin resah. cuma berharap bisa melakukan sesuatu. semoga.